aku benci polisi
suatu saat di masa laluku, aku melihat 3 orang polisi menyiksa anak laki laki karena alasan sepele, tidak punya ktp. mereka memukulnya, menendang kepalanya, perutnya, menginjak jari-jarinya, memakaikan helm padanya (aku baru tau kemudian kalau ternyata helm itu nyetrum), membuka helm, dan kembali menendang kepalanya.
saat itu aku 18 taun. aku pun sama seperti anak itu, tidak punya ktp. aku duduk di ubin yang dingin, hanya berjarak 3 meter dari mereka, menunggu giliranku. aku mempersiapkan fisik dan mentalku, mengira ngira apa yang akan mereka lakukan padaku.
kemudian polisi polisi itu berhenti dan berjalan mendekatiku. jantungku meronta ronta. seluruh tubuhku gemetar.
aku takut.
polisi yang berkumis paling tebal menarik kursi dan duduk di depanku. dia mengeluarkan pistol dan mulai mengelapnya. karena aku duduk di lantai, maka pandanganku tepat segaris dengan pistol dan tangan hitam pak polisi.
jantungku mau pecah.
2 polisi yang lain berdiri di kiri dan kananku. aku sudah tidak bisa lari. kalaupun mau lari, badanku seperti mati, aku tidak bisa menggerakkannya. tibatiba... "EHEM!!" (jancuk! aku hampir teriak karena kaget). "kalian itu mahasiswa bukannya belajar malah demo." (polisi berkumis dengan suara menyebalkan itu selesai mengelap pistolnya. sekarang dia mengeluarkan peluru peluru dan mengelapinya satu demi satu).
jantungku sudah tidak kuat lagi.
"liat tuh anak di belakang. udah gak punya ktp, nyuri sepeda motor, mau jadi apa?? kamu untung masih bisa kuliah. lha dia? sukur sukur gak di sodomi di penjara nanti. kamu mau liat orang di sodomi? nanti deh agak maleman kita turun ke sel. mau liat gakk??"
"nn..nngg...nggak pak.... mmmakasih...." (tersenyum sebisanya)
"kamu takut? tenang aja.... orangtua kamu nanti gak akan bayar banyak kalo anaknya babak belur kan? ya... tapi kalo dikit sih...." (dia tersenyum penuh arti pada 2 temannya). sebelum aku mengerti apa yang terjadi, polisi di kiri menendang kepalaku dengan lututnya. polisi di kanan menangkap kepalaku (udah kayak bola aja) dan membenturkannya ke dinding di belakangku.
kupingku berdenging. untuk sepersekian detik aku tidak bisa bernafas. badanku terasa dingin. mual seperti pingin muntah. semua yang aku lihat menjadi putih dan berbayang.
aku roboh. (tentu saja aku roboh. tubuh wanita adalah untuk dibelai, bukan untuk dipukul seperti maling). aku mendengar polisi berkumis berdiri dari kursinya. aku berusaha memulihkan penglihatanku. lumayan, aku sudah bisa melihat walaupun samar. namun kemudian seperti adegan slow motion aku lihat sepatu boot hitam itu bergerak ke arah perutku. pandanganku menjadi putih lagi. dan aku sudah benar benar hampir muntah. lalu aku rasakan sebuah sepatu menghantam pipi kiriku. lalu perutku. lalu kepalaku. (aku sudah tidak ingat lagi urutannya).
aku melawan sebisanya, tapi apalah arti perlawanan dari perempuan kurus ceking tak bertenaga seperti aku. aku ingat tanganku menggapai gapai dan menemukan penis seorang dari mereka. dengan sisa sisa tenaga yang ada aku cengkram kuat kuat. HAHAHA. aku puas sekali mendengar dia berteriak kesakitan. aku baru melepasnya saat ada benda keras menyambar kepalaku.
tak berapa lama mereka berhenti. (mungkin sudah bosan). dan meninggalkanku tergeletak di situ. aku mulai mengatur nafasku. (aku heran, bisa bisanya aku tidak pingsan). badanku kacau. perasaanku apalagi. aku ingin menangis tapi tidak bisa. ingin muntah juga tidak bisa. lemas sekali. rohku seperti terbang meninggalkan tubuhku. entah berapa lama aku dalam posisi mengenaskan itu sebelum akhirnya aku bisa duduk dan membersihkan tanah tanah di mukaku.
malam itu aku tidak berani tidur.
aku takut mereka akan datang lagi.
dan sekarang, kadang jika aku melihat polisi di jalan atau di televisi, aku jadi teringat lagi akan ketakutan itu. dan tentunya kebencian itu...
saat itu aku 18 taun. aku pun sama seperti anak itu, tidak punya ktp. aku duduk di ubin yang dingin, hanya berjarak 3 meter dari mereka, menunggu giliranku. aku mempersiapkan fisik dan mentalku, mengira ngira apa yang akan mereka lakukan padaku.
kemudian polisi polisi itu berhenti dan berjalan mendekatiku. jantungku meronta ronta. seluruh tubuhku gemetar.
aku takut.
polisi yang berkumis paling tebal menarik kursi dan duduk di depanku. dia mengeluarkan pistol dan mulai mengelapnya. karena aku duduk di lantai, maka pandanganku tepat segaris dengan pistol dan tangan hitam pak polisi.
jantungku mau pecah.
2 polisi yang lain berdiri di kiri dan kananku. aku sudah tidak bisa lari. kalaupun mau lari, badanku seperti mati, aku tidak bisa menggerakkannya. tibatiba... "EHEM!!" (jancuk! aku hampir teriak karena kaget). "kalian itu mahasiswa bukannya belajar malah demo." (polisi berkumis dengan suara menyebalkan itu selesai mengelap pistolnya. sekarang dia mengeluarkan peluru peluru dan mengelapinya satu demi satu).
jantungku sudah tidak kuat lagi.
"liat tuh anak di belakang. udah gak punya ktp, nyuri sepeda motor, mau jadi apa?? kamu untung masih bisa kuliah. lha dia? sukur sukur gak di sodomi di penjara nanti. kamu mau liat orang di sodomi? nanti deh agak maleman kita turun ke sel. mau liat gakk??"
"nn..nngg...nggak pak.... mmmakasih...." (tersenyum sebisanya)
"kamu takut? tenang aja.... orangtua kamu nanti gak akan bayar banyak kalo anaknya babak belur kan? ya... tapi kalo dikit sih...." (dia tersenyum penuh arti pada 2 temannya). sebelum aku mengerti apa yang terjadi, polisi di kiri menendang kepalaku dengan lututnya. polisi di kanan menangkap kepalaku (udah kayak bola aja) dan membenturkannya ke dinding di belakangku.
kupingku berdenging. untuk sepersekian detik aku tidak bisa bernafas. badanku terasa dingin. mual seperti pingin muntah. semua yang aku lihat menjadi putih dan berbayang.
aku roboh. (tentu saja aku roboh. tubuh wanita adalah untuk dibelai, bukan untuk dipukul seperti maling). aku mendengar polisi berkumis berdiri dari kursinya. aku berusaha memulihkan penglihatanku. lumayan, aku sudah bisa melihat walaupun samar. namun kemudian seperti adegan slow motion aku lihat sepatu boot hitam itu bergerak ke arah perutku. pandanganku menjadi putih lagi. dan aku sudah benar benar hampir muntah. lalu aku rasakan sebuah sepatu menghantam pipi kiriku. lalu perutku. lalu kepalaku. (aku sudah tidak ingat lagi urutannya).
aku melawan sebisanya, tapi apalah arti perlawanan dari perempuan kurus ceking tak bertenaga seperti aku. aku ingat tanganku menggapai gapai dan menemukan penis seorang dari mereka. dengan sisa sisa tenaga yang ada aku cengkram kuat kuat. HAHAHA. aku puas sekali mendengar dia berteriak kesakitan. aku baru melepasnya saat ada benda keras menyambar kepalaku.
tak berapa lama mereka berhenti. (mungkin sudah bosan). dan meninggalkanku tergeletak di situ. aku mulai mengatur nafasku. (aku heran, bisa bisanya aku tidak pingsan). badanku kacau. perasaanku apalagi. aku ingin menangis tapi tidak bisa. ingin muntah juga tidak bisa. lemas sekali. rohku seperti terbang meninggalkan tubuhku. entah berapa lama aku dalam posisi mengenaskan itu sebelum akhirnya aku bisa duduk dan membersihkan tanah tanah di mukaku.
malam itu aku tidak berani tidur.
aku takut mereka akan datang lagi.
dan sekarang, kadang jika aku melihat polisi di jalan atau di televisi, aku jadi teringat lagi akan ketakutan itu. dan tentunya kebencian itu...

<< Home